Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaPolitik

Hasil Survei Mayoritas Publik Tak Percaya Isu ‘Antek Asing’ yang Diungkap Prabowo

Views
×

Hasil Survei Mayoritas Publik Tak Percaya Isu ‘Antek Asing’ yang Diungkap Prabowo

Sebarkan artikel ini
Presiden Prabowo Subianto Pidato Di Tuban
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto saat memberikan sambutan dalam acara ; Panen Raya Jagung Serentak dan Groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri, di Tuban Jawa Timur, Sabtu 16 Mei 2026. [Foto : Istimewa]

Koma.id Presiden Prabowo Subianto beberapa kali menyinggung adanya “antek asing” yang disebut berupaya menggoyang stabilitas nasional, termasuk melalui dugaan hasutan demonstrasi besar-besaran pada Agustus 2025. Pernyataan tersebut menuai kritik dari akademisi dan aktivis yang menilai retorika itu dapat mendelegitimasi kritik terhadap pemerintah.

Hasil survei Lembaga Survei Indonesia pada 3-5 April 2026 menunjukkan 47,4 persen responden tidak setuju dengan tuduhan campur tangan asing yang disampaikan Prabowo, sementara 39,5 persen setuju dan 13,2 persen lainnya tidak menjawab atau belum yakin. Survei melibatkan 1.216 responden dengan margin kesalahan sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Dalam survei tersebut, responden yang setuju dengan pernyataan Prabowo diminta menyebut pihak asing yang dimaksud.

Silakan gulirkan ke bawah

“Meskipun korelasi ini tidak berarti sebab-akibat, ada kesimpulan penting yang dapat ditarik darinya,” kata peneliti LSI, Yoes C. Kenawas dikutip.

Hasilnya, mayoritas menganggap aktor negara sebagai pihak yang terlibat, dengan Amerika Serikat menjadi negara yang paling banyak disebut, disusul Tiongkok. Peneliti LSI, Yoes C. Kenawas, menyebut terdapat korelasi kuat antara tingkat kepuasan terhadap kinerja Prabowo dengan persetujuan terhadap tuduhan campur tangan asing.

LSI juga menilai isu “antek asing” telah memicu polarisasi di masyarakat, terlebih narasi tersebut terus diperkuat melalui media sosial dan media tradisional oleh pendukung pemerintah.

Menurut Yoes, jika disinformasi terus berkembang, hal itu dapat mempersempit ruang kritik dan memperberat kerja advokasi akademisi maupun aktivis di tengah meningkatnya tekanan pemerintah.

“Jika disinformasi ini berlanjut, ada risiko bahwa tuduhan campur tangan asing ini akan dianggap benar, sehingga semakin mempersulit akademisi dan aktivis untuk melakukan pekerjaan advokasi mereka, terutama di bawah tekanan yang meningkat akibat represi pemerintah,” pungkasnya.

 

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.