KOMA.ID, JAKARTA – Pasukan Israel dilaporkan telah merusak sebanyak 17 unit kamera pengawas yang terhubung dengan markas utama pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di wilayah selatan Lebanon. Insiden ini terjadi dalam kurun waktu 24 jam terakhir, sebagaimana diungkapkan oleh seorang pejabat keamanan PBB.
Kondisi keamanan di Lebanon selatan semakin memburuk sejak pecahnya konflik Israel-Hizbullah pada 2 Maret lalu. Pasukan PBB di Lebanon (UNIFIL) kerap terjebak di tengah baku tembak, di mana Hizbullah melancarkan serangan terhadap Israel dan sebaliknya, pasukan Israel mendorong masuk ke kota-kota perbatasan, dilansir dari AFP, Sabtu (4/4/2026).
Pejabat yang tidak ingin disebutkan namanya tersebut mengonfirmasi, “17 kamera markas kami telah dihancurkan oleh tentara Israel” di kota pesisir Naqura.
Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, sebelumnya menyatakan kepada AFP pada hari Kamis bahwa pasukan perdamaian menyaksikan “tentara Israel melakukan penghancuran sebagian besar wilayah” di Naqura sejak awal pekan.
“Penghancuran ini tidak hanya menghancurkan rumah dan bisnis sipil, tetapi kekuatan ledakan juga menyebabkan kerusakan pada markas UNIFIL,” tambahnya.
Tiga personel penjaga perdamaian asal Indonesia yang bertugas di bawah bendera PBB juga menjadi korban tewas dalam dua insiden terpisah sepanjang minggu lalu. UNIFIL turut melaporkan adanya ledakan di salah satu pangkalan mereka dekat Odaisseh, Lebanon selatan, pada hari Jumat yang mengakibatkan tiga personel terluka. Hingga kini, UNIFIL menyatakan “belum mengetahui asal ledakan tersebut”.
Sementara itu, tentara Israel menuding Hizbullah telah menembakkan “roket yang mendarat di pos terdepan UNIFIL”. Kantor PBB di Jakarta pada hari Sabtu membenarkan bahwa korban luka adalah warga negara Indonesia.
Indonesia mengutuk insiden tersebut sebagai “tidak dapat diterima”. Negara ini menegaskan bahwa “peristiwa ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk memperkuat perlindungan bagi pasukan penjaga perdamaian PBB di tengah situasi konflik yang semakin berbahaya”.
Menurut data PBB, sebanyak 97 anggota pasukan perdamaian telah tewas dalam serangkaian kekerasan sejak pembentukan UNIFIL pada tahun 1978, yang awalnya bertujuan memantau penarikan pasukan Israel setelah invasi ke Lebanon.
“Ini merupakan minggu yang sulit bagi pasukan penjaga perdamaian yang bekerja di dekat bagian tengah wilayah operasi UNIFIL,” ujar Ardiel dalam pernyataannya.
Ia juga mengingatkan semua pihak terkait kewajiban mereka untuk menjamin keselamatan dan keamanan para penjaga perdamaian, termasuk dengan menghindari aktivitas pertempuran di dekat area yang dapat membahayakan mereka.











