Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaHukum

Fenomena Kopi Pangku Viral, Warganet Pertanyakan Legalitas Usaha

Views
×

Fenomena Kopi Pangku Viral, Warganet Pertanyakan Legalitas Usaha

Sebarkan artikel ini
Fenomena Kopi Pangku Viral, Warganet Pertanyakan Legalitas Usaha

Koma.id | Jakarta – Kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, belakangan menjadi sorotan publik bukan karena kemewahannya, melainkan keberadaan sebuah kedai kopi bernama Kopi Pangku PIK. Konsep kedai ini menuai kontroversi lantaran menghadirkan praktik hiburan malam tradisional khas jalur Pantura di tengah kawasan modern ibu kota.

Fenomena ini mencuat setelah video pendek yang diunggah dua pria di TikTok dan Instagram memperlihatkan aktivitas di dalam kedai. Awalnya mereka mengira kabar tentang kopi pangku di PIK hanyalah gimmick pemasaran. Namun, keraguan sirna ketika mereka mendapati spanduk besar bertuliskan “Kopi Pangku PIK – Sedia Yang Enak Enak” terpampang di depan kedai sederhana dengan kursi plastik.

Silakan gulirkan ke bawah

Dalam rekaman, tampak pelanggan pria menikmati minuman sambil ditemani pramusaji wanita yang duduk di pangkuan mereka. Suasana semi-outdoor dengan musik keras menciptakan atmosfer warung pinggir jalan, namun dengan layanan tambahan yang spesifik. Momen seorang pelanggan menyeruput kopi sambil memangku wanita berambut panjang menjadi salah satu potongan video yang paling banyak dibicarakan.

Popularitas istilah “pangku” melonjak di awal 2026, dipicu oleh tayangan film Pangku karya Reza Rahadian dan drama mikro Kafe Pangku di layanan streaming. Perpaduan tren hiburan dan temuan di dunia nyata memancing beragam reaksi warganet, mulai dari rasa penasaran hingga pertanyaan mengenai legalitas usaha tersebut.

Hingga kini, pihak pengelola kawasan PIK maupun aparat berwenang belum memberikan pernyataan resmi terkait operasional kedai yang videonya telah ditonton jutaan kali.

Kopi pangku sendiri bukan hal baru di Indonesia. Warung kopi dengan konsep ini telah lama dikenal di jalur Pantura, Jawa, hingga beberapa daerah lain seperti Jember, Mojokerto, Bogor, dan Pontianak. Praktik ini melibatkan pramusaji perempuan yang menemani pelanggan, termasuk duduk di pangkuan, sambil menyajikan kopi.

Harga kopi pangku biasanya lebih tinggi dibanding warung biasa, dengan tambahan tarif jasa pramusaji yang dihitung berdasarkan durasi. Warung kopi pangku kerap dilengkapi karaoke dan lampu hias, serta sering diduga sebagai tempat praktik prostitusi terselubung.

Bagi sebagian perempuan dengan keterbatasan ekonomi dan pendidikan, bekerja di warung kopi pangku menjadi pilihan realistis. Seorang pramusaji yang enggan disebut namanya mengaku menerima upah Rp800–900 ribu per bulan, ditambah tip dari pelanggan.

“Saya mempunyai tuntutan ekonomi. Ada keluarga yang harus saya hidupi,” ujarnya.

Fenomena Kopi Pangku PIK kini menempatkan praktik budaya jalanan Pantura di tengah kawasan elit Jakarta. Publik menunggu sikap resmi aparat terkait legalitas dan pengawasan usaha yang memicu kontroversi ini.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.