Gulir ke bawah!
NKRI Harga Mati
NKRI Harga Mati
BeritaKeamanan

Ketika Anime Menjadi Alat Provokasi Sosial, Narasi yang Perlu Diluruskan

Views
×

Ketika Anime Menjadi Alat Provokasi Sosial, Narasi yang Perlu Diluruskan

Sebarkan artikel ini
Fitnah di Tengah Duka: Refleksi Kebebasan Berpendapat di Era Digital

Koma.id | Serang – Di tengah semarak persiapan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, masyarakat dikejutkan oleh viralnya pengibaran bendera bajak laut Jolly Roger dari anime One Piece di sejumlah titik. Aksi tersebut memicu berbagai tafsir, mulai dari simbol kebebasan hingga tudingan sebagai bentuk perlawanan terhadap negara.

Namun menurut Pengasuh Pondok Pesantren Subulussalam Kiyai Amal Faihan Maimun, dari Serang, Banten, fenomena ini justru mengisyaratkan lemahnya literasi simbolik di kalangan masyarakat, terutama anak muda yang tumbuh bersama budaya pop digital.

Silakan gulirkan ke bawah

“Kita tidak bisa menutup mata terhadap pengaruh anime dan media digital. Tapi memadukannya secara sembarangan ke dalam peristiwa sakral seperti HUT Kemerdekaan, justru menciptakan kesalahpahaman besar,” ungkap Kyai Amal, kamis (31/07).

Menurut Kiyai Amal yang juga merupakan Kepala Bidang Hukum dan Politik ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama) Banten, simbol fiksi seperti bendera bajak laut Topi Jerami tidak memiliki tempat dalam konteks kenegaraan. Bendera Merah Putih, lanjutnya, adalah warisan perjuangan dan lambang suci yang tidak boleh dikaburkan oleh unsur hiburan, apalagi jika dimaknai sebagai bentuk kritik politik.

viralnya pengibaran bendera bajak laut Jolly Roger
Viralnya pengibaran bendera bajak laut Jolly Roger

“Kemerdekaan adalah buah dari pengorbanan. Jangan sampai karena ingin viral, kita mengaburkan nilai-nilai kebangsaan dengan simbol dari dunia fiksi,” tuturnya.

Kyai Amal menekankan pentingnya edukasi lintas generasi tentang makna simbol negara dan bahaya normalisasi provokasi visual di ruang publik. Ia juga mengajak tokoh masyarakat, pendidik, dan konten kreator untuk lebih bijak dalam menyampaikan pesan melalui media digital.

“Budaya populer boleh dijadikan sarana hiburan dan kreativitas, tapi jangan sampai menjelma jadi alat provokasi yang justru memecah belah,” katanya.

Sebagai penutup, Kyai Amal berharap peringatan kemerdekaan tetap menjadi ruang persatuan, bukan panggung perdebatan simbolik yang menyesatkan publik.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.