Gulir ke bawah!
Keamanan

Ngasiman Djoyonegoro Harap TNI Polri Respons Serius Kasus Pembantaian Danramil di Papua

14803
×

Ngasiman Djoyonegoro Harap TNI Polri Respons Serius Kasus Pembantaian Danramil di Papua

Sebarkan artikel ini
Ngasiman
Pengamat intelijen dan keamanan, Ngasiman Djoyonegoro.

KOMA.ID, JAKARTA – Pengamat Intelijen, Pertahanan, dan Keamanan, Ngasiman Djoyonegoro memberikan respons atas terjadinya aksi pembunuhan terhadap aparat TNI yang dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Apalagi dalam kasus ini, korbannya adalah Komandan Koramil (Danramil) yang ditembak dan dibacok secara keji oleh OPM pada hari Kamis, 11 April 2024. Dalam peristiwa tersebut, Danramil Aridade Papua Oktavianus ditemukan tewas dengan luka-luka berat dan ditemukan sudah bersimbah darah.

Silakan gulirkan ke bawah

Bagi pria yang karib disapa Simon tersebut, bahwa situasi kasus pembunuhan terhadap Danramil tersebut harus disikapi sangat serius oleh aparat keamanan di Indonesia, baik dari unsur TNI maupun Polri.

“Sebagai aktor non state, mereka menggunakan senjata perang taktik, strategi, intelijen bahkan infrastruktur perang. Bagaimana seorang Danramil bisa diketahui identitasnya? Bagaimana prosedur perjalanannya? Itu semua menjadi pertanyaan-pertanyaan kunci untuk dapat melihat peristiwa ini secara lebih utuh,” kata Simon kepada wartawan, Sabtu (13/4).

Artinya, sebagai sebuah operasi OPM telah menyusun strategi yang menyerang langsung, tertarget dan spesifik, yaitu institusi pertahanan negara. Bahkan mereka memetakan secara detail pergerakan sehingga eksekusi pembunuhan dapat dilakukan.

Simon berpendapat bahwa kelompok separatisme ini sudah ditunggangi dengan agenda asing. Sebab, tidak mungkin operasi organisasi militer non state tersebut bisa berjalan dengan lancar dan rapih tanpa sokongan dari pihak eksternal.

“Siapa ‘asing’ itu? Mereka yang meneriakkan situasi di Papua sebagai situasi pelanggaran HAM. Padahal jelas, mereka bersenjata, bertaktik, berstrategi, agenda dan tujuan jelas, dan sasaran kelompok tertentu yang merepresentasikan institusi pertahanan dan keamanan negara,” ujarnya.

Menurut Simon, pemerintah Indonesia, TNI, POLRI, Intelijen, termasuk pemerintah daerah seharusnya bisa lebih responsif menghadapi situasi ini. Apalagi menurutnya, OPM jelas menantang Indonesia untuk bertempur secara terbuka dengan kasus pembantaian terhadap prajurit TNI tersebut.

“Sinergisitas TNI-POLRI sudah bersifat tuntutan wajib dilembagakan di Papua. Karena OPM menyatakan perang terbuka,” tandasnya.

Lebih lanjut, Simon juga menjelaskan bahwa salah satu respons penting yang harus segera dilakukan antara lain dengan cara menetapkan prosedur operasi sebagaimana dalam situasi perang.

“Kalau tidak, NKRI akan terus dirugikan dan dirongrong kedaulatannya,” tegas Simon.

Respons lain adalah melembagakan sinergisitas TNI-Polri, yaitu dengan cara menetapkan peran-peran yang beririsan antara kedua institusi. Sementara di sisi yang lain, memperkuat dan mempersiapkan tupoksi masing-masing lembaga.

“Kita perlu memperkuat Tupoksi TNI dalam melaksanakan Operasi Teritorial dan Operasi Pengamanan Perbatasan dengan SOP yang lebih responsif sesuai dengan standar penerapan pada kondisi perang,” imbuhnya.

Sebagai bagian dari unser pendeteksi dini ancaman, Simon mengatakan bahwa hal itu tentu saja melekat pada setiap operasi yang informasinya dipergunakan secara taktis dan menyeluruh. Oleh sebab itu, Operasi Pengamanan terhadap sipil harus dilakukan oleh unsur Kepolisian.

“Ini juga penguatannya harus ditingkatkan,” tukasnya.

Terakhir, Simon menyebut bahwa peran peningkatan kualitas SDM (sumber daya manusia) dan infrastruktur penting untuk dilakukan dalam rangka mempersempit ruang gerak teroris Papua tersebut bisa menjalankan misi kejahatannya.

“Hal lain adalah peningkatan kualitas SDM, infrastruktur dan strategi operasi lapangan oleh TNI. Kita tahu bahwa kondisi geografis di Papua memiliki spesifikasi tersendiri. Oleh karenanya untuk meningkatkan efektifitas perlu dipersiapkan SDM, dukungan infrastruktur, sarana dan prasarana dan kelembagaan secara lebih rinci dan terstruktur. Ini membutuhkan sinergi TNI-POLRI dan juga intelijen di lapangan,” pungkas Simon.

Sekadar diketahui, bahwa Komandan Koramil (Danramil) 1703-04/Aradide Letda Inf Oktovianus Sogarlay (OS) telah meninggal dunia akibat aksi penyerangan dan penembakan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Penyerangan dan penembakan terjadi di daerah Pasir Putih, Distrik Aradide, Kabupaten Paniai, Papua Tengah pada Kamis (11/4).

“Para pelaku penyerangan dan penembakan ini adalah gerombolan OPM,” kata Kapendam XVII/Cendrawasih Letkol Inf Candra Kurniawan dalam keterangannya, Jumat (12/4).

Kronologi bermula pada Rabu (10/4) sore, OS keluar dari Makoramil 1703-4/Aradide. Namun hingga Kamis (11/4) ia tidak kunjung kembali. Pencarian kemudian dilakukan dan OS ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa akibat serangan dan tembakan. Selain tembakan, hasil autopsi menunjukkan korban juga diparang pada bagian kepala serta tangan.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.