Gulir ke bawah!
Nasional

Imbauan Sejuk Para Tokoh Sikapi Perbedaan Awal Ramadhan

262
×

Imbauan Sejuk Para Tokoh Sikapi Perbedaan Awal Ramadhan

Sebarkan artikel ini

Koma.id – Para tokoh memberi imbauan sejuk soal beda awal Ramadan 2024 atau 1445 Hijriah. Para tokoh meminta semua masyarakat menjaga situasi kondusif dan menyikapinya dengan sikap saling menghormati.

Diketahui pemerintah telah menggelar sidang isbat p pada Minggu (10/3) malam. Hasilnya, pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1445 Hijriah jatuh pada Selasa, 12 Maret 2024.

Silakan gulirkan ke bawah

Sidang isbat digelar secara langsung di kantor Kemenag, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (10/3/2024). Hasil sidang isbat diumumkan terbuka oleh Menag Yaqut Cholil Qoumas.

“Sidang Isbat secara mufakat menetapkan bahwa 1 Ramadan 1445 H jatuh hari Selasa 12 Maret 2024 Masehi,” kata Menag Yaqut.

Sebelum itu, para tokoh sudah menyampaikan imbauan sejuk perihal perbedaan awal Ramadan. Diketahui Muhammadiyah akan melaksanakan ibadah puasa hari ini.

Menteri Koordinator (Menko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy juga menanggapi soal potensi perbedaan awal Ramadan 1445 Hijriah. Muhadjir mengatakan umat Islam yang berpuasa besok atau lusa harus tetap menjaga dan merawat sikap tenggang rasa.

“Baik yang puasa duluan maupun yang puasa kemudian, tetap menjaga dan merawat tenggang rasa yang selama ini sudah terbangun dengan kokoh,” kata Muhadjir Effendy kepada detikcom, Minggu (10/3).

Sementara itu, Muhammadiyah menanggapi soal kemungkinan beda awal puasa. Muhammadiyah mengimbau masyarakat saling menghormati soal perbedaan awal Ramadan hingga rakaat dalam pelaksanaan tarawih.

“Terhadap perbedaan awal Ramadan dan ibadah lainnya, seperti rakaat tarawih, hendaknya saling menghormati,” kata Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti kepada wartawan, Minggu (10/3).

Mu’ti mengimbau umat Islam menunaikan puasa, salat tarawih dan ibadah lainnya dengan khusyuk mengharapkan rida Allah. Dia meminta masyarakat menjaga situasi dan kondisi agar umat Islam dapat beribadah dengan sebaik-baiknya.

“Kami mengimbau kepada umat Islam menunaikan ibadah puasa, salat tarawih, dan ibadah Ramadan lainnya dengan khusyuk, mengharapkan rida Allah,” kata Mu’ti.

“Kepada masyarakat luas, hendaknya menjaga situasi dan kondisi yang kondusif dengan menjaga ketenangan dan saling menjaga agar umat Islam dapat beribadah dengan sebaik-baiknya,” tambahnya.

Lebih lanjut, PBNU juga menanggapi itu. PBNU mengimbau masyarakat saling menghormati dan menghargai pilihan sesuai keyakinan masing-masing.

“Ya kita berharap semua saling menghormati dan menghargai pilihan sesuai keyakinan masing-masing,” kata Ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur) kepada wartawan, Minggu (10/3).

Fahrur mengimbau masyarakat umum mengikuti ketetapan pemerintah terkait penentuan awal Ramadan 1445 H. Hal itu, katanya, agar terjadi kekompakan umat Islam secara umum dalam memulai puasa dan hari raya.

“Namun bagi masyarakat umum kita mengimbau agar mengikuti ketetapan pemerintah saja, agar terjadi harmoni dan kekompakan umat Islam secara umum dalam memulai puasa dan hari raya,” ujarnya.

Fahrur mengatakan di Indonesia sudah ada sidang isbat yang bisa menjadi wadah diskusi semua ormas Islam. Fahrur mengaku yakin Kemenag sudah mengakomodasi semuanya.

Sebagaimana dilakukan di seluruh dunia, penetapan awal Ramadan dan hari raya ditentukan oleh pemerintah, tidak ada ormas atau lembaga yang melakukan penentuan sendiri.

“Di Indonesia sudah ada sidang isbat yang bisa menjadi wadah diskusi semua ormas Islam dalam penentuan tersebut. Kemenag saya yakin sudah mengakomodir semuanya,” imbuhnya.

Sebagaimana dilakukan di seluruh dunia, penetapan awal Ramadan dan hari raya ditentukan oleh pemerintah, tidak ada ormas atau lembaga yang melakukan penentuan sendiri.

“Di Indonesia sudah ada sidang isbat yang bisa menjadi wadah diskusi semua ormas Islam dalam penentuan tersebut. Kemenag saya yakin sudah mengakomodir semuanya,” imbuhnya.

Pihak MUI mengimbau masyarakat tidak emosional atau marah jika nantinya awal Ramadan hingga awal Syawal berbeda.

“Ya jangan saling marah. Nanti gara-gara ini orang Islam kok puasanya duluan, yang duluan juga bilang orang Islam kok Ramadan-nya kok beda. Janganlah,” kata Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Internasional Sudarmoto di kantor MUI, Jakarta, Minggu (10/3/2024).

Ia mengatakan perbedaan dalam penentuan awal puasa itu sudah lama terjadi di Indonesia. Jadi ia mengatakan jangan sampai perbedaan itu menimbulkan perpecahan antar-umat Islam.

“Biarkan perbedaan itu berjalan begitu saja. Jangan sampai mengganggu, (menimbulkan) pertentangan, apalagi mengganggu ukhuwah,” imbuhnya.

“Itu sudah lama. Kita punya pengalaman beda-beda itu, nanti 1 Ramadan-nya beda, ternyata 1 Syawal-nya bisa sama,” sambungnya.

Lebih lanjut, dia mengimbau untuk saling menghormati jika adanya perbedaan awal puasa antar umat Islam. Hal itu, menurutnya, untuk menghindari adanya perkelahian antar-umat Islam.

“Wis ben (biarkan saja), yang penting jangan berkelahi. Imbauannya saling menghormati sajalah,” pungkasnya.

Jangan lupa temukan juga kami di Google News.